Senin, 11 Oktober 2010

"apa yg kau bawa ketika
memasuki rumah
ini?",katamu
"seonggok daging tanpa
seutas benang",jawabku.
"apa yang kau bawa ketika
kau keluar dari rumah
itu?"
"seonggok daging di dalam
selembar kain putih"
"hanya itu?"
"ya"
"untuk apa kain putih
itu?"
"untuk menutupi semua
luka dan borok yang
kudapati dari rumah itu.
aku malu jika semua
nampak dan terlihat"

Rabu, 29 September 2010

dimanakah sahabat?
kurasa tanyamu belumlah
tepat.
dimanakah kita sahabat?
kita adalah benang-benar
yang merakit bersembunyi
dalam sehelai kain
kita butir-butir pasir yang
berangkulan memadat
dalam sebentuk bata
kita tetes-tetes air yang
lepas bebas menggenangi
lautan
kau aku sama
bernaung dibawah
lengkungan langit yang
sama
diatas dataran yang kita
sepakat bernama bumi
kita adalah jiwa semesta
yang menghidupkannya
kau pikir kita apa?
bukankah kita khalifah
yang berhak memilih arah
menuju
dengan kepala,tangan dan
kaki
kubutuh kau
begitupun dirimu
membutuhkanku
tapi aku adalah siang yang
tak bisa menghadiri
putaran sehari penuh
masih ada malam yang
menggantikanku
aku tak bisa selalu ada
untukmu
itulah batas
kemanusiawianku.

Rabu, 22 September 2010

pergilah
bersama air hujan yang
merambati jejalanan
menuju sungai-sungai dan
lautan
pergilah bersama debu-
debu yang terbang bersama
angin hingga ke gurun
sahara
pergilah bersama kepulan
asap yang menyembul dari
atas tiap2 rumah menuju
angkasa
pergilah. . .
kulepaskan kau
kurelakan kau
kuikhlaskan kau
jangan pernah ingat
pulang. . .

Jumat, 03 September 2010

bahkan, tidak ada yang bisa memahamiku
mengerti aku
dibalik keceriaanku
aku menyimpan kesedihan yang mendalam
dibalik senyumku ada keperihan

Kamis, 26 Agustus 2010

dia
adalah yang terjahat yang pernah kutemui
mematikan hatiku
dan mencabutnya
dari akarnya
aku
tak bisa memaafkannya

Selasa, 17 Agustus 2010

apabila jagad raya berhenti berputar
semuanya menjadi diam di titiknya masing-masing
matahari akan bertambah panas
bumi tak lagi bergravitasi
satu belahan menjadi sangat dingin
satu belahan menjadi sangat panas
kita akan melayang-layang seperti anai-anai yang beterbangan
gunung-gunung mual dan muntah
samudra tumpah ruah
tanah kehilangan kepadatannya
ia retak
semua bercampur baur
menjadi satu
dan kehidupan akan menyambut ajalnya
akhir yang telah dijanjikan-Nya.
aku merindukanmu
sungguh
dengan rindu tak berujung
rindu tanpa temu
seakan-seakan
kerinduanku
seperti
kerinduan rembulan pada matahari
kerinduan malam
pada siang
air pada api
samudra pada gurun pasir
andai
rindu ini mempertemukan kita
kita akan hilang
kita akan lenyap
kita akan menjadi tak ada